Selasa, 28 November 2017

Kebutuhan Nutrisi untuk Penderita Autis


Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks  yang umumnya mengalami gangguan pola bermain, komunikasi, interaksi sosial, gangguan sensoris, emosi, dan perilaku. Gejala autis umumnya tampak pada anak sebelum usianya 3 tahun. Menurut Center for disease control and prevention (CDC), autis difenisikan sebagai suatu kelompok gangguan yang disebut autism spectrum disorder (ASD). Menurut data dari CDC (2014), 1% penduduk dunia merupakan populasi penderita ASD. Jumlah penderita autis semakin terus bertambah seiring dengan bertambahnya tahun, baik di negara maju maupun negera berkembang. Berdasarkan data WHO, jumlah prevelansi autis di Indonesia mengalami kenaikan yang luar biasa yaitu dari 1 per 1000 penduduk menjadi 8 per 1000 penduduk. 

Terdapat 2 jenis dari perilaku autis yaitu perilaku yang efeksif (berlebihan)  yaitu perilaku yang eksesif (berlebihan) dan perilaku defisit (berkekurangan). Perilaku efeksif merupakan perilaku yang hiperaktif dan marah seperti menggigit, memukul, mencakar hingga menyakiti diri sendiri (self abuse). Sedangkan perilaku defisit merupakan perilaku yang mengalami gangguan berbicara, melamun, menangis tanpa sebab, dan kurangnya perilaku sosial seperti tertawa. Beberapa langkah yang dapat membantu menangi kedua perilaku autis tersebut yaitu dengan dilakukan pengobatan medis dan tata laksana perilaku, serta dilakukan pengaturan diet. Dengan dilakukannya pengaturan diet dapat membantu tercapainya hasil terapi lainnya (Pratiwi & Fillah, 2014).

PENGATURAN DIET


Diet yang dilakukan untuk penderita autis :

1. Diet bebas Gluten dan bebas kasein (Gluten Free Casein Free / GFCF)

Penderita autisme harus menghindari bahan dan produk makanan yang mengandung gluten dan kasein. Gluten dan kasein merupakan protein yang susah dicerna sedangkan enzim pencernaan pada penderita autis sangat kurang sehingga makanan yang mengandung kasein dan gluten tidak dapat tercena sempurna. Selain itu, gluten dan kasein dapat menyebabkan diare dan meningkatkan hiperaktiftas termasuk emosinya meningkat dan mengalami gangguan tidur (Kusumayati,2011).  

Diet
Makanan yang harus dihindari
Makanan pengganti
Bebas Gluten
Biskuit, mie, roti, kue, snack dan segala jenis makanan lain yang mengandung tepung terigu, oat, dan barley
Makanan yang mengandung tepung beras, tepung jagung (original), tepung sorgum, tepung maizena, tepung tapioka, millet, bihun
Bebas Kasein
Makanan atau minuman yang mengandung susu sapi dan olahannya seperti: keju, mozzarella, butter, permen susu, es krim, yoghurt, snacks.
susu  kedelai, sari almond, sari kacang hijau 

Namun untuk pemilihan makanan pengganti harus diperhatikan dengan baik. Selain mengalami kesulitan dalam mencera, beberapa penderita autis juga memiliki alergi makanan karena gangguan pada sistem imun. Oleh karena itu, beberapa sumber makanan yang dapat menyebabkan alergi harus dihindari seperti kacang, coklat, telur, dan lainnya. Gejala-gejala yang timbul karena alergi yaitu muntah, diare, bintik merah pada kulit, pilek, dan pusing, dan dapat menimbulkan efek serius pada otak. Untuk mengetahui penderita autis memiliki alergi atau tidak secara akurat dengan melakuakan test kulit alergi dan pemeriksaan darah (Ig E Total, RAST, menghitung fosinolfil, dan foto rontgen dada).

2. Diet Bebas Zat Adiktif

Penderita autisme harus mengindari makanan yang mengandung zat adiktif sepeti zat pengawet, pewarna, penyedap rasa, dan pengelmusi. Hal ini dikarenakan penyedap dan pewarna buatan dapat  menggangu dan menyebabkan masalah tingkah laku dan masalah lainnya bagi individu yang sensitif. Makanan yang dikonsumsi harus dimasak dengan menggunakan pengawet alami dan perwarna makanan yang alami. 

3. Diet bebas Fenol dan Salisilat

Beberapa anak autis mengidap sindrom PST (Phenol Sulfo Transferase) sehingga makanan yang mengandung fenol harus dihindari karena anak sensitif terhadap fenol. Selain itu fenol juga dapat menggerus lapisan usus, sedangkan asam salisilat dapat menghalangi proses pelapisan usus.

Diet
Makanan yang harus dihindari
Makanan pengganti
Bebas Fenol
sukun, kentang, singkong, talas, pisang, apel, jeruk, pir anggur, dan buah-buah sitrus lainnya, teh, dan zat adiktif
-Buah: nanas dan papaya (kaya enzim pemecah peptida)
-Minuman : sari kacang hijau dan sari beras merah (kaya nutrisi), jus wortel dan rosella (kaya antioksidan).
Bebas Salisilat
Buah masam (tomat, beri, dll)

4. Diet Spesific Carbohidrate / Diet bebas Gula

Untuk penderita autis, disarankan untuk menghindari atau mengurangi makanan dan minuman yang mengandung gula berlebih seperti soda atau permen. Hal ini dikarenakan gula yang berlebih menjadi nutrisi untuk jamur sehingga jamur menjadi tumbuh berlebih. 

Jenis Gula
Gula yang tidak diberikan
Gula pengganti
Gula murni
Gula pasir, syrup, minuman yang berkarbonasi dan jus buah dalam kemasan
 Jus buah alami tanpa gula, gula palem namun dengan jumlah yang sedikit dan hanya untuk dicampur kedalam pembuatan kue, gula buah (fruktosa) namun tidak dalam frekuensi sering
Gula buatan
Gula dari saccharine, aspartame seperti Tropicana slim dan equal
Gula jagung (gula sorbitol) 


5. Diet bebas jamur

Semua jenis makanan yang diolah dengan proses fermentasi tidak diberikan. Jenis makanan tersebut seperti : semua jenis jamur segar maupun kering, kecap, tauco, keju, kue yang dibuat dengan menggunakan soda pengembang, vermipan, atau sejenisnya, makanan yang sudah lama disimpan atau buah-buahan yang dikeringkan, hindarkan makanan yang dibuat melalui peragian (tempe, roti, dan lain-lain)


NUTRISI YANG DIBUTUHKAN

(Candless 2003; Bernhoft & Buttar 2008; Dufault 2009)

1. Vitamin B6 dan Magnesium 

Berfungsi dalam :
   - peningkatan pada kontak mata
   - menambah minat terhadap minat sekitar
   - meningkatkan kemampuan berbicara
   - merangsang perkembangan bicara (speech)
   - membantu sistem imun dan sistem pencernaan
   - membantu proses visual, sensori, dan kemampuan kognitif
   - membantu proses detoksifikasi
Vitamin B6 yang dibutuhkan yaitu 300-500 mg/hari dan Magnesium 200 mg/hari 

2. Seng /Zinc 

Berfungsi dalam :
 - pertumbuhan terutama diantara anak-anak yang terhambat pertumbuhannya. 
 - membantu penyembuhan diare kronis serta diare akut. 
 - untuk proses metallothioneine yang diperlukan untuk melawan radikal bebas dan mengeluarkan          racun logam berat dari tubuh.
Seng yang dibutuhkan umumnya yaitu 25-50 mg (2-3 mg per kilogram berat badan)/ hari

3. Kalsium 

Kekurangan kalsium dapat membuat anak-anak cenderung menjadi lebih mudah tersinggung, mengalami gangguan tidur, amarah dan tidak mampu memberikan perhatian pada sesuatu. 
Kalsium yang dibutuhkan yaitu 800– 200 mg/ hari terutama yang sedang menjalani diet GFCF. 

4. Selenium 

Berfungsi sebagai antioksidan untuk mencegah radikal bebas yang dapat merusak membran sel. 
Kekurangan selenium menyebabkan penurunan sel darah putih sehingga fungsi imun menurun dan rentan terkena infeksi.
Dosis yang dianjurkan yaitu 100- 200 mcg/hari, bila berlebih dapat mengakibatkan toksik bagi tubuh. 

5. Vitamin A 

Fungsi Vitamin A :
    - sebagai antioksidan
    - meningkatkan imun
    - meningkatkan fungsi penglihatan, persepsi sensorik, pengolahan bahasa dan perhatian
Bentuk alami vitamin A dapat ditemukan pada cod liver oil yang dapat diberikan pada anak autisme dalam bentuk  8 suplemen cod liver oil (5000 IU/hari). 

6. Vitamin C dan E 

Vitamin C dan vitamin E bekerja secara sinergis sehingga harus diberikan secara bersamaan
Fungsi vitamin E :
  - sebagai antioksidan utama
  - menjaga membran sel dari kerusakan oksidatif
  - memperbaiki metabolisme dan penerimaan vitamin D serta kalsium
  - meningkatkan sirkulasi.
  - memperbaiki jaringan tubuh.
Vitamin C dianjurkan hingga 1000 mg/ hari dan vitamin E 200- 600 IU/ hari. 

 7. Asam Lemak Essential

Asam lemak Omega-3 berfungsi dalam: 
  - membantu perkembangan otak
  - pemeliharaan neurotransmitter yang diperlukan untuk mempengaruhi perilaku dan cara belajar serta dapat membantu peningkatan perhatian. 
  - membantu meningkatkan respon imun
  - membantu melawan inflamasi di sistem pencernaan. 
Dosis yang dianjurkan :
  EPA (Eicosapentaenoic Acid) 500-1000 mg/hari, 
  DHA (Docosahexaenoic Acid) 250-500 mg/hari
  GLA (Gamma Linolenic Acid ) 50-100 mg/hari. 

8. Asam amino 

Fungsi asam amino :
  - membangun struktur protein otot
  - membuat enzim yang mengontrol setiap reaksi kimia dalam tubuh
  - membuat variasi neurotransmitter otak dan hormon-hormon
  - berperan dalam detoksifikasi
  - memproteksi antioksidan. 
Kekurangan asam amino dapat menyebabkan gangguan belajar dan perilaku.
Pada anak autisme dibutuhkan 700 mg suplemen asam amino / harinya
.

DAFTAR PUSTAKA

Candless, J, Mc (2003). Children with starving brains: Anak-anak dengan otak yang lapar; Panduan penanganan medis untuk penyandang gangguan spektrum autisme. Edisi Kedua. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta

Dufault, R, et al. (2009). Mercury exposure, nutritional deficiencies and metabolic disruptions may affect learning in children. Behavioral and Brain Functions 2009, 5:4

Indah, R.N. (2008). Terapi Diet Autisme. http://repository.uin-malang.ac.id/511/1/Terapi%20Diet%20Autisme.pdf diakses pada tanggal 25 November 2017.

James, B. Adams, Ph.D. (2003). Summary of Dietary, Nutritional, and Medical Treatments for Autism – based on over 150 published research studies. ARI Publication 40 – 2013 Version

Kidd, P. M. (2003). An approach to the nutritional management of autism. Alternative therapies in Health and Medicine9(5), 22.

Kusumayanti, G A D. (2011). Pentingnya Pengaturan Makanan bagi Anak Autis. Jurnal Ilmu Gizi. Volume 2 Nomor 1, Febuari 2011 : 1-8.

Pratiwi, R A & Fillah F D. (2014). Hubungan Skor Frekuensi Diet Bebas Gluten Bebas Casein Dengan Skor Perilaku Autis. Journal of Nutrition College, Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman 34 – 42.

Zahwa, Z. & E. Warsiki (2014). Aspek Biomedik Pada Autisme Fokus Pada Diet dan Nutrisi. Jurnal Psikiatri Surabaya. Vol. 3 - No. 1 / 2014-04 TOC : 2, and page : 11 - 20